PUISIKU
Sunday, January 19, 2020
Awal mula berjilbab lebar itu banyak banget ujiannya. Teman-teman pada heran melihat aku yang dulunya masih suka bepergian tanpa hijab, kini mulai berhijab dan perlahan memakai hijab syar’i bahkan berpakaian sesuai syaria’at. Ada yg berkata “Padahal putri lebih cantik bukak jilbab lah, rambutnya indah kayak iklan model sampo sunsilk” sembari senyum merespon perkataan mereka. Selain itu, aku pernah diuji ditawarin menjadi model sampo. Ya, dengan ikhlas hati aku menolaknya karena aku yakin “apabila kita meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan mengganti sesuatu yg lebih baik lagi dari sesuatu itu”. Ujian dalam perjalanan hijrah ku belum usai sampai disini. Semakin ku memperdalam ilmu ku, semakin bertambah ujian yang menghampiriku. “Cantik itu tidak untuk dipublikasi” kalimat itu membuatku perlahan merubah kebiasaan ku berselfi. Alhamdulillah, secara perlahan walaupun sedikit demi sedikit dapat dirubah. Namun, ujian menghampiriku kembali. Aku ditawarkan menjadi model hijab dari salah seorang fotografer. Tapi, aku kembali menolak tawaran itu karena kata-kata yg memotivasi ku sebelumnya. Selain itu, kata “Bidadari tak bermake-up” pun menjadi motivasi untuk perjalanan hijrahku. Namun, rasanya berat untukku sehingga aku hanya berniat untuk mempertipis make-up saja. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi :) Ujian itu tidak henti-hentinya kudapati. Allah memberiku ujian melalui teman akrab ku sendiri. “Udah jilbab dalam, pakai manset tangan, kaus kaki. Ntar lagi bercadar tuh”, kata-kata itu yang selalu kurenungi. Masa’ iya, teman akrab malah menjudge bukan mendukung perjalanan hijrah kita sendiri. Namun, aku hanya mengabaikannya. Karena aku masih punya banyak orgorg yg mendukungku. Bertambah kuat iman seseorang, bertambah hebat ujian yg Allah berikan padanya. Aku bersyukur, keimananku sedang terus Allah naikkan. Semoga hijrahku bukan sekedar hanya merubah penampilan, tapi juga merubah kepribadian. BEAUTY INSIDE, SYAR’I OUTSIDE. BISMILLAH, SEMOGA TETAP ISTIQOMAH :)
Kita lahir di keluarga yang cacat. Di antara dua pihak yang saling menyalahkan. Yang mementingkan ego masing-masing. Saling merebutkan diri ini. Di mana ada keluarga seperti ini? Dulu, kita hidup sangat bahagia. Senyum dan tawa ada pada wajah kita. Pergi kemana hal manis yang pernah ada itu? Namun sekarang, yang ada hanyalah tangisan yang tak ada hentinya.
Ayah, Ibu, aku ingin hidup dengan kalian berdua. Aku ingin kita hidup bersama dan bahagia selamanya. Seperti dongeng-dongeng yang pernah ku baca ketika masih kecil. Tapi, hidup ini bukanlah dongeng. Ini adalah hidup nyata. Terkadang, ekspektasi berbanding terbalik dengan realita. Kita hanya bisa meratapi dan berpikir, apakah ini nasib atau takdir Rasanya ingin seperti orang lain, yang hidup bahagia dengan keluarga yang utuh. Mereka adalah orang-orang beruntung yang pernah ada.
Tuhan, untuk apa kita lahir ke dunia ini? Untuk apa? Sedangkan Ayah dan Ibu berpisah. Lalu mereka punya pasangan baru. Memang benar, itu pilihan hidup mereka. Mungkin itu yang terbaik untuk mereka. Apabila mereka bahagia, kita pun bahagia. Namun tetap saja hati ini sakit, Tuhan. Hati ini menjerit, sangat menjerit…. Sudah berpisah, tapi tetap saja tak bisa berdamai. Hati ini sakit lagi, Tuhan. Mengapa harus kita yang menjadi korban? Padahal kita tidak bersalah. Kata orang, kita orang yang sangat ceria. Apakah mereka tahu sebenarnya hati ini tidak ceria? Hati ini mendung, kawan. Namun kita memang ingin memendam rasa ini. Biarlah hanya kita dan Tuhan yang tahu. Di belakang orang, kita ini adalah orang yang sangat sangat lemah. Kita terpuruk, Tuhan.
Ayah, Ibu, aku ingin hidup dengan kalian berdua. Aku ingin kita hidup bersama dan bahagia selamanya. Seperti dongeng-dongeng yang pernah ku baca ketika masih kecil. Tapi, hidup ini bukanlah dongeng. Ini adalah hidup nyata. Terkadang, ekspektasi berbanding terbalik dengan realita. Kita hanya bisa meratapi dan berpikir, apakah ini nasib atau takdir Rasanya ingin seperti orang lain, yang hidup bahagia dengan keluarga yang utuh. Mereka adalah orang-orang beruntung yang pernah ada.
Tuhan, untuk apa kita lahir ke dunia ini? Untuk apa? Sedangkan Ayah dan Ibu berpisah. Lalu mereka punya pasangan baru. Memang benar, itu pilihan hidup mereka. Mungkin itu yang terbaik untuk mereka. Apabila mereka bahagia, kita pun bahagia. Namun tetap saja hati ini sakit, Tuhan. Hati ini menjerit, sangat menjerit…. Sudah berpisah, tapi tetap saja tak bisa berdamai. Hati ini sakit lagi, Tuhan. Mengapa harus kita yang menjadi korban? Padahal kita tidak bersalah. Kata orang, kita orang yang sangat ceria. Apakah mereka tahu sebenarnya hati ini tidak ceria? Hati ini mendung, kawan. Namun kita memang ingin memendam rasa ini. Biarlah hanya kita dan Tuhan yang tahu. Di belakang orang, kita ini adalah orang yang sangat sangat lemah. Kita terpuruk, Tuhan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Awal mula berjilbab lebar itu banyak banget ujiannya. Teman-teman pada heran melihat aku yang dulunya masih suka bepergian tanpa hijab, kini...
-
Awal mula berjilbab lebar itu banyak banget ujiannya. Teman-teman pada heran melihat aku yang dulunya masih suka bepergian tanpa hijab, kini...
-
Kita lahir di keluarga yang cacat. Di antara dua pihak yang saling menyalahkan. Yang mementingkan ego masing-masing. Saling merebutkan diri ...