Kita lahir di keluarga yang cacat. Di antara dua pihak yang saling menyalahkan. Yang mementingkan ego masing-masing. Saling merebutkan diri ini. Di mana ada keluarga seperti ini? Dulu, kita hidup sangat bahagia. Senyum dan tawa ada pada wajah kita. Pergi kemana hal manis yang pernah ada itu? Namun sekarang, yang ada hanyalah tangisan yang tak ada hentinya.
Ayah, Ibu, aku ingin hidup dengan kalian berdua. Aku ingin kita hidup bersama dan bahagia selamanya. Seperti dongeng-dongeng yang pernah ku baca ketika masih kecil. Tapi, hidup ini bukanlah dongeng. Ini adalah hidup nyata. Terkadang, ekspektasi berbanding terbalik dengan realita. Kita hanya bisa meratapi dan berpikir, apakah ini nasib atau takdir Rasanya ingin seperti orang lain, yang hidup bahagia dengan keluarga yang utuh. Mereka adalah orang-orang beruntung yang pernah ada.
Tuhan, untuk apa kita lahir ke dunia ini? Untuk apa? Sedangkan Ayah dan Ibu berpisah. Lalu mereka punya pasangan baru. Memang benar, itu pilihan hidup mereka. Mungkin itu yang terbaik untuk mereka. Apabila mereka bahagia, kita pun bahagia. Namun tetap saja hati ini sakit, Tuhan. Hati ini menjerit, sangat menjerit…. Sudah berpisah, tapi tetap saja tak bisa berdamai. Hati ini sakit lagi, Tuhan. Mengapa harus kita yang menjadi korban? Padahal kita tidak bersalah. Kata orang, kita orang yang sangat ceria. Apakah mereka tahu sebenarnya hati ini tidak ceria? Hati ini mendung, kawan. Namun kita memang ingin memendam rasa ini. Biarlah hanya kita dan Tuhan yang tahu. Di belakang orang, kita ini adalah orang yang sangat sangat lemah. Kita terpuruk, Tuhan.
No comments:
Post a Comment